Terjemahkan halaman dengan Google

Proyek November 5, 2020

Ancaman PLTA terhadap Ekosistem Sungai Kayan

Negara:

Penulis:

Ekosistem Sungai Kayan membentang 570 kilometer, membelah hutan hujan tropis di Kalimantan Utara. Sebagian wilayahnya dilindungi lewat Taman Nasional Kayan Mentarang, sebagian lainnya dicerai-berai oleh hutan industri, perkebunan sawit, dan ladang warga.

Aliran Sungai Kayan berperan penting bagi siklus hidrologi sekaligus sumber pangan berkelanjutan bagi warga sekitar. Ia menopang hajat hidup sejumlah spesies penting seperti kukang kayan (Nycticebus kayan), orangutan (Pongo pygmaeus), beruang madu (Helarctos malayanus), dan gajah borneo (Elephas maximus borneensis).

Lebih dari itu, masyarakat adat Dayak juga telah mendiami kawasan di sepanjang tepi sungai selama berabad-abad. Mereka menggantungkan hidup dari hutan dan membangun kebudayaan unik. Dengan sejarah perusakan hutan di Kalimantan, ekosistem Sungai Kayan jadi benteng terakhir hutan hujan tropis Borneo.

Belakangan, ekosistem Sungai Kayan terancam dengan rencana pembangunan proyek nasional PLTA senilai US$22,2 miliar (Rp315 triliun). Ada lima bendungan yang akan dibangun dengan kapasitas total 9.000 MW, menjadikannya PLTA terbesar di Asia Tenggara. Pembangkit ini diproyeksikan untuk menyuplai kebutuhan listrik di kawasan industri Tanah Kuning-Mangkupadi. Dengan skala megaproyek sebesar ini, ekosistem Sungai Kayan kemungkinan besar bakal terancam.

PLTA ini akan menenggelamkan dua desa adat Dayak yakni Long Paleban dan Long Lejuh. Masyarakat akan dipindahkan sejauh 10 kilometer ke hilir sungai. Meski belum ada kajian akademik komprehensif soal dampak pembangunan PLTA terhadap ekosistem Sungai Kayan, rencana megaproyek ini disambut positif oleh banyak pihak. Hasil penelusuran Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) pada akhir 2019 menunjukkan pembangunan sudah mulai berjalan meski belum ada kejelasan bagaimana nasib masyarakat sekitar.